sp by kiki

Sabtu, 28 Juli 2012

LEBIH MENGENAL MASYARAKAT SAMIN

~ Belajar Dari Masyarakat Samin ~

“Samin”, mendengar istilah ini pasti sudah tidak asing lagi, masyarakat ini memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan masyarakat lain

Setelah saya teliti lebih lanjut masyarakat Samin sebenarnya masih tergolong etnis Jawa namun karena mereka memiliki tata cara kehidupan bahkan tradisi yang berbeda dengan masyarakat Jawa maka masyarakat samin dianggap sebagai etnis tersendiri.

Masyarakat ini ternyata telah menyebar terutama di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah kebanyakan mereka bertempat tinggal di desa-desa pelosok misalnya dalam wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Ngawi Propinsi Jawa Timur. Sedangkan untuk wilayah Jawa Tengah tersebar di Kabupaten Blora, Pati dan Kudus.

Sejarah samin

Pencetus ajaran Saminisme adalah Samin Surosentiko yang lahir di Blora pada tahun 1859. Nama asli Samin Surosentiko adalah R Kohar yang merupakan anak dari R Surowidjoyo dan cucu dari RM Brotodiningrat yang merupakan Bupati Sumoroto yang berkuasa pada tahun 1802-1826. R Surowidjoyo sejak kecil di didik di lingkungan keraton dengan segala kemewahan. (Frederik Barth: 1969)

Namun dalam hatinya timbul perlawanan karena mengetahui rakyatnya sengsara oleh penjajahan Belanda. Pada tahun 1840, R. Surowidjoyo meninggalkan keraton dan membentuk kelompok pemuda yang dinamakan Tiyang Sami Amin.

Kelompok pemuda yang dipimpinnya ini melakukan berbagai perampokan terhadap antek-antek Belanda dan membagikan hasilnya kepada orang miskin. Tahun 1859 lahirlah R Kohar yang kemudian melanjutkan perjuangan ayahnya dan memakai nama Samin Surosentiko atau Samin Anom.

Berbagai ajaran yang menyimpang dari kehidupan wajar etnis Jawa dan pembangkangan terhadap segala kebijakan penjajah Belanda terus disebarluaskan kepada para pengikutnya. Samin Surosentiko ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Digul.

Empat puluh hari sebelum penangkapan itu, Samin Surosentiko memproklamirkan dirinya sebagai Raja Tanah Jawa. Pada tahun 1914, Samin Surosentiko meninggal dalam pengasingannya.

Sepeninggal Samin Surosentiko, kepemimpinan Samin diwariskan kepada Suro Kidin dan Mbah Engkrek. Suro Kidin adalah menantu Samin Surosentiko, sedangkan Mbah Engkrek adalah salah seorang murid setia Samin Surosentiko.

Pola kepemimpinan pada masa ini tidak lagi bersifat sentralistik namun lebih bergantung pada pemimpin lokal di masing-masing wilayah.

Generasi berikutnya adalah Surokarto Kamidin, anak dari Suro Kidin. Surokarto Kamidin merupakan pemimpin Samin generasi ke-3 dan menetap di Dusun Jepang. Surokarto Kamidin memegang kepemimpinan pada masa peralihan pendudukan Belanda dan Jepang hingga pada masa kemerdekaan.

Pada tahun 1986, Surokarto Kamidin meninggal dunia dan kepemimpinan Samin di Dusun Jepang digantikan oleh anaknya, Hardjo Kardi hingga saat ini.

Pola kehidupan

Masyarakat samin kebanyakan lebih banyak bekerja di sawah dan berladang, karena pekerjaan ini dirasa paling pas dan cocok bagi mereka,

Masyarakat Samin tidak mengenal konsep majikan dan buruh, tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses produksi pertanian dilaksanakan dengan cara-cara tradisional. Kelembagaan gotong royong berupa sambatan masih senantiasa terpelihara hingga saat ini.

Kebutuhan tenaga kerja dalam bidang pertanian diperoleh dengan cara saling membantu antar rumah tangga petani secara bergiliran.

Pola pengupahan dalam pertanian tidak dikenal dalam masyarakat Samin. Sebagai gantinya adalah pola saling meminjam tenaga kerja, sehingga pengeluaran berupa upah tenaga kerja digantikan juga dengan tenaga kerja. “Sambatan” juga dilakukan pada kegiatan selain pertanian, seperti membangun

Sambatan ini berlangsung mulai pada masa tanam hingga panen, khusus pada masa panen, tenaga kerja mendapatkan “upah” berupa sebagian dari hasil panen yaitu “bawon”. Model ini juga dapat diartikan sebagai suatu bentuk asuransi sosial masyarakat Samin.

Ketika salah satu rumah tangga petani mengalami kegagalan panen maka masih dapat mengandalkan hasil bawon dari rumah tangga yang lain sebagai hasil “upah” tenaga kerja yang diberikannya.

Sistem panen terbuka dengan menggunakan bawon merupakan sistem panen terbuka, pelaksanaan sistem panen ini dilakukan oleh hampir seluruh penduduk tergantung pada jenis komoditas dan pekerjaan.

Memegang tradisi di zaman modern

Suatu yang menarik ketika masyarakat Samin di satu sisi menerima kehadiran teknologi di bidang pertanian, namun di sisi lainnya mereka masih tetap memegang teguh nilai-nilai tradisional yang mereka anut. Transformasi pertanian yang terjadi hanya sebatas pada cara produksi tanpa merubah struktur sosial masyarakat.

Kelas-kelas sosial yang terbentuk dengan adanya tranformasi pertanian, yaitu kelas pemilik tanah dan buruh tani tidak terbentuk pada masyarakat Samin.

Proses perubahan disebabkan oleh perubahan budaya non material tampaknya lebih bisa diterima apabila digunakan untuk membedah kasus masyarakat Samin. Perubahan budaya non material yang paling tampak adalah sikap keterbukaan pada masyarakat Samin terhadap pendidikan formal

Nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat Samin pada masa lampau merupakan perwujudan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Samin tidak diwujudkan dalam bentuk perlawanan fisik, namun dalam bentuk pembangkangan.

masyarakat Samin mulai terbuka ketika pemerintah gencar melaksanakan program pembangunan di segala bidang. Modernisasi dipandang sebagai sebuah ide yang harus ditransformasikan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Modernisasi beranggapan bahwa apabila ingin mencapai kemajuan maka nilai tradisional yang ada harus digantikan dengan nilai baru yang lebih modern tetapi tanpa meninggalkan tradisi lama.

Inilah yang dapat diambil pelajaran dari tradisi masyarakat samin yakni sikap saling tolong-menolong tanpa memandang kedudukan bahwa ia kaya atau miskin, dari kalangan pejabat atau pun petani, rasa asih dan tanpa pamrih dalam menolong seharusnya dapat kita jadikan contoh pada zaman ini dimana nilai kemanusiaan dan rasa kepercayaan sudah mulai memudar dan terkikis.

Sumber : ASAH OTAK

2 komentar:

  1. Mari kita cari makam/jadad mbah samin suro sentiko di sawahlunto.info ke email yohanes.sumadi65@yahoo.com.insya allah diketemukan.

    BalasHapus
  2. Youtube inikah makam samin surosentiko di sawahlunto. Info email ke yohanes.sumadi65@yahoo.com atau yohanes.sumadi65.ys@gmail.com

    BalasHapus